Metode Pembelajaran: Strategi Pengorganisasian

Tugas sebagai pengembang teori yang diemban oleh ilmuwan pembelajaran amat rumit, karena ia berhadapan dengan sejumlah besaruntitledA variabel yang berada di luar kontrolnya. Variabel-variabel ini diklasifikasi menjadi variabel kondisi pembelajaran, seperti telah diuraikan dalam bab 2. Isi pembelajaran, yang telah ditetapkan lebih dulu berdasarkan tujuan yang ingin dicapai; si belajar, yang membawa seperangkat sikap, kemampuan awal, serta karakteristik perseorangan lainnya ke dalam situasi pembelajaran; dan variabel kendala, seperti terbatasnya waktu, dana, serta media pembelajaran.

Sering kali, variabel-variabel ini harus diterima sebagai barang jadi, dan selanjutnya dijadikan sebagai pijakan kerja. Peluang yang tinggal sekarang hanyalah bagaimana memanipulasi variabel metode pembelajaran (strategi pengorganisasian, strategi penyampaian, dan strategi pengelolaan pem-belajaran) untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan.

STRATEGI PENGORGANISASIAN PEMBELAJARAN

Strategi mengorganisasi isi pembelajaran disebut oleh Reigeluth, Bunderson, dan Merrill (1977) sebagai structural strategy, yang mengacu kepada cara untuk membuat urutan (sequencing) dan mensintesis (synthesizing) fakta, konsep, prosedur, dan prinsip yang berkaitan. Sequencing mengacu kepada pembuatan urutan  penyajian  isi  bidang  studi, dan synthesizing mengacu kepada upaya untuk menunjukkan kepada si-belajar keterkaitan antara fakta, konsep, prosedur, atau prinsip yang terkandung dalam suatu bidang studi.

Pengorganisasian pembelajaran, secara khusus, merupakan fase yang amat penting dalam rancangan pembelajaran. Synthesizing akan membuat topik-topik dalam suatu bidang studi menjadi lebih bermakna bagi si belajar (Ausubel, 1968), yaitu dengan menunjukkan bagaimana topik-topik itu terkait dengan keseluruhan isi bidang studi. Kebermaknaan ini akan menyebabkan si-belajar memiliki retensi yang lebih baik dan lebih lama terhadap topik-topik yang dipelajari. Sequencing, atau penataan urutan, juga penting, karena amat diperlukan dalam pembuatan sintesis. Sintesis yang efektif hanya dapat dibuat bila isi telah ditata dengan cara tertentu, dan yang lebih penting, karena pada hakekatnya, semua isi bidang studi memiliki prasyarat belajar (Gagne, 1968, 1977a, 1977c).

Penggarapan strategi pengorganisasian pembelajaran tidak bisa dipisahkan dari karakteristik struktur isi bidang studi. Ini disebabkan oleh karena struktur isi bidang studi memiliki implikasi yang amat penting bagi upaya pembuatan urutan dan sintesis antar isi suatu bidang studi. Struktur bidang studi, seperti telah diuraikan pada bab sebelumnya, mengacu kepada keterkaitan di antara bagian-bagian yang tercakup dalam suatu bidang studi. Ia bisa berupa struktur belajar atau hirarkhi belajar, struktur prosedural, struktur konseptual, dan struktur teoritik (Reigeluth dan Stein, 1983).

Strategi Makro dan Mikro
Bagian ini akan menguraikan strategi pengorgani-sasian makro, yang diacukan untuk menata keseluruhan isi bidang studi; dan strategi pengorganisasian mikro, yang diacukan untuk menata sajian suatu konsep, atau prinsip, atau prosedur. Sebenarnya begitu banyak teori telah dikembangkan, baik untuk untuk strategi mikro maupun makro. Beberapa dari sejumlah teori yang berurusan dengan strategi mikro yang akan diuraikan dalam bagian ini adalah teori penataan urutan berdasarkan prasyarat belajar dari Gagne, model pembentukan konsep dari Taba, dan penguasaan konsep dari Bruner. Untuk strategi makro pengintegrasian sejumlah teori, seperti hirarkhi belajar dari Gagne, teori spiral dari Bruner, analisis tugas dari Gropper, teori skema dari Mayer, urutan subsumptive dari Ausubel, dan webteaching dari Norman; dilakukan oleh Reigeluth untuk mendapatkan suatu teori yang komprehensif yang disebut dengan teori elaborasi.

Strategi Mikro

Teori Gagne dan Briggs

Selama bertahun-tahun, Gagne dan Briggs telah mengembangkan berbagai teori pembelajaran yang preskriptif (Gagne, 1975; 1977a; 1977c; 1985; Gagne dan Briggs, 1979; Gagne dan Wager, 1981; Briggs, 1977a; 1977b; Martin dan Briggs, 1986). Teori pembelajaran yang dikembangkannya mempreskripsikan hal-hal yang berkaitan dengan (a) kapabilitas belajar, (b) peristiwa pembelajaran, dan (c) pengorganisasian pembelajaran (atau, dengan ungkapan aslinya, urutan pembelajaran).

Kapabilitas belajar

Untuk keperluan merancang pembelajaran, Gagne (1984, 1985) mengemukakan lima kategori kapabilitas yang dapat dipelajari oleh si-belajar, yaitu:

  1. Informasi verbal
  2. Ketrampilan intelektual, yang mencakup  lima bagian kategori:
    1. Diskriminasi
    2. Konsep konkrit
    3. Konsep abstrak
    4. Kaidah
    5. Kaidah tingkat  lebih tinggi
  3. Strategi kognitif
  4. Sikap
  5. Ketrampilan motorik

Kategorisasi kapabilitas ini penting sekali bagi pengembangan teori pembelajaran, karena setiap kategori menuntut penggunaan metode pembelajaran yang berbeda. Menurut Gagne, belajar telah terjadi apabila si-belajar telah memperoleh kapabilitas tertentu untuk melakukan sesuatu. Karakteristik setiap kapabilitas diuraikan berikut ini:

Informasi verbal. Si-belajar telah belajar informasi verbal apabila ia dapat mengingat kembali informasi itu. Indikator yang biasanya dipakai untuk menunjukkan kapabilitas ini bisa berupa: menyebutkan atau menuliskan informasi seperti nama, kalimat, alasan, argumen, proposisi, atau seperangkat proposisi yang terkait.

Ketrampilan intelektual. Kapabilitas dalam meng-gunakan simbul untuk mengorganisasi dan berinteraksi dengan lingkungan. Si-belajar akan menggunakan suatu ketrampilan intelektual apabila ia berinteraksi dengan lingkungan. Dua bentuk simbul, bahasa  dan   angka,   dapat   digunakan   dalam   berbagai   kegiatan,   seperti   membaca,

menulis, membedakan, menggabungkan, mengklasifikasi, menjumlah, dst. Penggunaan simbul-simbul untuk mendiskriminasi, membentuk konsep dan kaidah, serta memecahkan masalah menghasilkan apa yang disebut dengan ketrampilan intelektual. Rincian dari ketrampilan intelektual adalah berikut ini:

Diskriminasi. Suatu kapabilitas untuk melakukan respon yang berbeda pada perangsang yang memiliki dimensi fisik yang berbeda. Si-belajar dikatakan mendiskriminasi apabila ia menyatakan apakah sesuatu itu sama atau berbeda dengan yang lain berdasarkan dimensi fisiknya, seperti: ukuran, warna, bentuk, atau suara. Ini merupakan ketrampilan intelektual yang paling dasar.

Konsep konkrit. Si-belajar telah belajar konsep konkrit apabila ia dapat mengidentifikasi contoh-contoh baru (atau, yang belum dipelajari) dari sekelompok objek atau kelompok-kelompok objek. Konsep konkrit diidentifikasi dengan menunjuk ke, atau menandai pada, contoh-contoh, dan biasanya tidak dapat diidentifikasi dengan definisi. “Bola”, “roda”, “segi-tiga”, atau “kuda” adalah contoh-contoh dari konsep konkrit.

Konsep abstrak. Si-belajar telah belajar konsep abstrak apabila ia menggunakan suatu definisi untuk mengklasifikasi contoh-contoh yang tidak dipelajari sebelumnya. Konsep-konsep seperti: “keluarga” atau “orang-asing” adalah contoh konsep abstrak.

Kaidah. Si-belajar telah belajar kaidah apabila ia dapat menggunakan kaidah itu pada contoh-contoh yang sebelumnya tidak dipelajari. Kaidah adalah hubungan antara dua konsep atau lebih. Contoh: penggunaan “rumus Ohm”, yang diungkapkan dengan V = IR, untuk memecahkan masalah-masalah rangkaian listrik.

Kaidah tingkat lebih tinggi (pemecahan masalah). Si-belajar telah mencapai kaidah tingkat tinggi apabila ia menggunakan dua kaidah atau lebih, yang sudah dipelajari sebelumnya, untuk memecahkan masalah-masalah baru. Kapabilitas ini melibatkan penguasaan sejumlah konsep dan kaidah yang kemudian harus diintegrasikan untuk memecahkan masalah. Di samping itu, oleh karena masalah itu adalah baru, maka si-belajar harus meneliti lebih dulu dan memilih kaidah-kaidah mana yang optimal digunakan.

Gagne (1984, 1985) menghipotesiskan bahwa ketrampilan-ketrampilan intelektual ini bersifat kontinum dari sederhana-ke kompleks, dan memiliki hubungan yang hirarkhis. Artinya, belajar ketrampilan intelektual yang lebih tinggi, memerlukan penguasaan ketrampilan intelektual yang lebih rendah. Atau, ketrampilan intelektual yang lebih rendah mejadi prasyarat bagi belajar ketrampilan yang lebih tinggi.

(pustaka : dari berbagai sumber media online)

One response

  1. yang dijelaskan secara panjang lebar kok cuman strategi mikro, crus strategi makronya mana ? Trimakasih

Tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: