Strategi Penyampaian Pembelajaran

Uraian mengenai strategi penyampaian pembelajaran  menekankan pada media apa yang dipakai untuk menyampaikan pembelajaran,untitledAAA kegiatan belajar apa yang dilakukan siswa, dan dalam  struktur belajar mengajar yang bagaimana. Strategi pengelolaan menekankan pada penjadualan penggunaan setiap komponen strategi peng- organisasian dan strategi penyampaian pembelajaran, termasuk pula pembuatan catatan tentang kemajuan belajar siswa.

Strategi penyampaian (delivery strategy) mengacu kepada cara-cara yang dipakai untuk menyampaikan pembelajaran kepada si-belajar, dan sekaligus untuk menerima serta merespon masukan-masukan dari si-belajar. Oleh karena fungsinya seperti ini, maka strategi ini juga dapat disebut sebagai metode untuk melaksanakan proses pembelajaran. Gagne dan Briggs (1979:175) menyebut strategi ini dengan delivery system, yang didefinisikan sebagai “the total of all components necessary  to  make  an  instructional    system    operate    as    intended“.    Dengan

demikian, strategi penyampaian mencakup lingkungan fisik, guru, bahan-bahan pembelajaran, dan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pembelajaran. Atau, dengan ungkapan lain, media  merupakan satu komponen penting dari strategi penyampaian pembelajaran. Itulah sebabnya, media pembelajaran  merupakan bidang kajian utama strategi ini.

Secara lengkap ada tiga komponen yang perlu diperhatikan dalam mempreskripsikan strategi penyampaian, yaitu:

(1)  Media pembelajaran,
(2)  Interaksi si-belajar dengan media,
(3)  Bentuk (struktur) belajar-mengajar.

Media pembelajaran adalah komponen strategi penyampaian yang dapat dimuati pesan yang akan disampaikan kepada si-belajar, apakah itu orang, alat, atau bahan.

Interaksi si-belajar dengan media adalah komponen strategi penyampaian pembelajaran yang mengacu kepada kegiatan apa yang dilakukan oleh si-belajar dan bagaimana peranan media dalam merangsang kegiatan belajar itu.

Bentuk belajar mengajar adalah komponen strategi penyampaian pembelajaran  yang mengacu kepada apakah siswa belajar dalam kelompok besar, kelompok kecil, perseorangan, ataukah mandiri.

Media Pembelajaran

Martin dan Briggs (1986) mengemukakan bahwa media pembelajaran mencakup semua sumber yang diperlukan untuk melakukan komunikasi dengan si-belajar. Ini bisa  berupa perangkat keras, seperti komputer, televisi,

proyektor, dan perangkat lunak yang digunakan pada perangkat-perangkat keras itu. Dengan menggunakan batasan Martin dan Briggs, guru juga termasuk media pembelajaran  sehingga merupakan bagian dari kajian strategi penyampaian.

Seperti telah dikemukakan dalam bab 1, sekurang-kurangnya ada lima cara dalam mengklasifikasi media pembelajaran  untuk keperluan mempreskripsikan strategi penyampaian:

(1)  Tingkat kecermatan representasi,
(2)  Tingkat interaktif yang mampu ditimbulkannya,
(3)  Tingkat kemampuan khusus yang dimilikinya,
(4)  Tingkat motivasi yang mampu ditimbulkannya, dan
(5)  Tingkat biaya yang diperlukan.

Tingkat kecermatan representasi suatu media bisa diletakkan dalam suatu garis kontinum, seperti: benda konkrit, media pandang-dengar, seperti film bersuara; media pandang, seperti gambar atau diagram; media dengar, seperti rekaman suara dan simbul-simbul tertulis. Bagaimanapun juga, kontinum ini bisa bervariasi untuk suatu pembelajaran. Misalnya, pembelajaran  untuk suatu konser musik akan memiliki variasi kontinum yang berbeda menurut tingkat kecermatan representasinya.

Bruner (1966) dalam pengembangan teori pembelajar- annya, mengemukakan bahwa suatu pembelajaran harus bergerak dari pengalaman langsung, ke representasi ikonik (seperti dalam gambar dan film), dan selanjutnya ke representasi simbolik (seperti: kata atau simbol-simbol lain). “Instructional media not only provide the necessary concrete experiences, but also help students integrate prior experiences” (Heinich, Molenda, dan Russell, 1985:9). Banyak siswa telah melihat berbagai aspek  bagaimana  cara  pengaspalan  jalan   raya.  Mereka melihat

banyak kendaraan pengangkut bahan, seperti batu dan pasir. Mereka juga telah melihat cara menata batu, serta ukurannya. Mereka melihat bagaiaman cara membakar aspal dan menuangkannya ke atas batu yang telah ditata. Mereka juga melihat alat-alat besar lainnya, seperti bagaimana silinder bekerja. Bagaimanapun juga, mereka sering mendapat pengalaman ini secara terpisah-pisah. Di suatu tempat siswa melihat bagaimana menata batu, dan di tempat lain mereka melihat bagaimana membakar aspal, dan seterusnya. Bagaimanapun juga, mereka perlu memiliki pengalaman yang terintegrasi yang meng-gambarkan bagaimana cara pembangunan sebuah jalan raya. Media film tentang pembuatan jalan raya akan dapat mengintegrasikan semua tahapan ini sehingga pengalaman-pengalaman siswa yang terpisah-pisah tadi terintegrasi ke dalam suatu abstraksi yang bermakna.

Tingkat interaksi yang mampu ditimbulkan oleh suatu media juga dapat dibentangkan dalam suatu kontinum, tetapi titik-titik dalam kontinum ini ditunjukkan oleh jenis media yang berbeda: komputer, guru, buku kerja, bukuteks/rekaman, dan siaran radio/televisi. Media-media ini juga mempunyai kemampuan menyajikan berbagai media yang telah dikemukakan sebelumnya. Misalnya, guru dapat menyajikan semua media dari benda konkrit sampai simbul-simbul verbal. Buku kerja dapat menyajikan gambar, diagram, serta simbul-simbul tertulis. Juga dimungkinkan untuk menggunakan media secara terkombinasi, seperti buku kerja dengan film atau benda konkrit bila sedang bekerja di lab. Atau, buku kerja dikombinasi dengan bukuteks atau siaran radio. Atau juga simbul-simbul tertulis dengan film atau benda-benda konkrit. Kombinasi-kombinasi lainpun dapat diciptakan untuk keperluan suatu pembelajaran .

Tingkat kemampuan khusus yang dimiliki oleh suatu media juga dapat dipakai untuk mempreskripsikan strategi penyampaian. Tiap media dari berbagai media yang telah dibicarakan di atas, baik dari kontinum tingkat kecermatan maupun tingkat interaktifnya, dapat diidentifikasi karakte-ristik khusus yang dimilikinya. Karakteristik khusus yang dimaksud adalah kemampuannya dalam menyajikan sesuatu yang tidak dapat disajikan oleh media lain. Media-media yang mempunyai kemampuan khusus inilah yang amat berpengaruh dalam menetapkan strategi penyampaian.

Kemampuan-kemampuan khusus suatu media bisa dilihat dari kecepatannya dalam menyajikan sesuatu, seperti film tentang pembangunan jalan raya akan lebih cepat memberi gambaran tentang bagaimana tahapan pembuatan jalan raya, dibandingkan dengan mengamati langsung ke lokasi yang memakan waktu lama sampai jalan itu selesai. kemampuan simulatif, seperti dalam simulator terbang yang memungkinkan seorang pilot dapat mendaratkan sebuah pesawat sepuluh kali dalam satu jam tanpa harus lepas landas lagi setiap kali akan mengambil posisi mendarat berikutnya.

Kemampuan-kemampuan khusus juga sering dimiliki oleh media-media yang tingkat kecermatan representasi-nya rendah. Media rekaman, umpamanya, tidak terikat oleh waktu dan ruang. Media ini tingkat kecermatannya rendah, tetapi ia memiliki kemampuan khusus untuk menyajikan sesuatu yang sudah berlalu dan tak dapat diulangi.

Tingkat pengaruh motivasional yang dimiliki suatu media juga penting artinya untuk keperluan mempreskripsi-kan strategi penyampaian. Namun perlu dicatat bahwa pengaruh motivasional ini sering kali amat bervariasi sejalan dengan perbedaan perseorangan di antara si-belajar.  Umpamanya, seorang guru, sebagai media belajar, dapat bertindak sebagai  motivator bagi seorang siswa, tetapi pada saat yang sama, ia justru menghancurkan motivasi belajar siswa yang lain.

Suatu media pembelajaran  bisa memberi pengaruh motivasional yang berbeda. Perbedaan ini lebih banyak dapat dikaitkan dengan perbedaan karakteristik si-belajar. Makin dekat kesamaan karakteristik si-belajar dengan media yang dipakai, makin tinggi pengaruh motivasional yang bisa ditimbulkan oleh media itu. Heinich, Molenda, dan Russell (1985:36) menyimpulkan tentang semua ini, bahwa “If instructional media are to be used effectively, there must be a match between the characteristics of the learner and the content of the learning material and its presentation“.

Di samping interaksinya dengan karakteristik si-belajar, media juga dapat berinteraksi dengan tipe isi bidang studi dalam menentukan pengaruh motivasionalnya. Tipe isi konsep lebih tepat didekati dengan media benda konkrit, atau gambar serta diagram, sedangkan untuk tipe isi prosedural, film bersuara yang menunjukkan prosedur-prosedur yang sedang dipelajari akan dapat menimbulkan pengaruh motivasional yang tinggi.

Tingkat biaya yang diperlukan dalam menyiapkan suatu media juga penting untuk mempreskripsikan strategi penyampaian. Mulai dari perancangan sampai pada pembuatannya, kalau media itu dikembangkan sendiri. Kalau ingin menggunakan media siap pakai, dengan membeli, berapa harganya? Apakah memadai jika dibandingkan dengan keseluruhan strategi penyampaian yang akan dipakai? Nilai dari suatu strategi penyampaian dapat ditaksir dari jenis dan satuan media yang dipakai. Bagaimanapun juga, makin tepat dan lengkap media yang dipakai, makin besar keefektifan dari strategi penyampaian itu.

Kemp (1985:139) mengklasifikasi media pembelajaran  dengan menggunakan pendekatan bentuk pembelajaran: kelas besar, kelompok kecil, dan belajar sesuai dengan kecepatan siswa secara perseorangan. Klasifikasi ini ditunjukkan dalam tabel 4.1, 4.2, dan 4.3. Pemilihan media, menurut Kemp (1985:137), didasarkan pada karakteristik tujuan khusus yang ingin dicapai dan karakteristik isi yang ingin dipelajari, di samping faktor-faktor lain, seperti tersedia-tidaknya media itu dan mampu-tidaknya guru menggunakannya.

Klasifikasi lain dikemukakan oleh Gagne dan Briggs (1977:176-1770). Mereka menyajikan suatu tabel (tabel 4.4) tentang kaitan strategi penyampaian, yang dibedakannya menjadi enam: pembelajaran kelas besar, pembelajaran perseorangan, pembelajaran kelompok kecil, belajar mandiri, belajar/praktek di lapangan kerja, dan belajar di rumah; dengan media pembelajaran, serta mengaitkan kedua hal ini dengan jenis kegiatan belajar, metode pembelajaran, dan peranan guru.

(sumber referensi : di kutip dari beberapa media online).  

Tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: